Rabu, 29 Agustus 2012

Dulu

ditulis saat ini juga.

DULU

dulu aku membaca,
membaca segalanya.
tak ada yang membatasiku.
mereka bukanlah dinding dinding tajam.
aku membaca segala macam aksara,
bahkan jika perlu ku raba, dan ku telan hidup hidup

ku baca. semua.
apa, apapun yang iya atau pun tidak,
semua. semauku. mendalamimu.

dulu aku menulis.
menulis hingga janji dan ikrar yang kutulis
"tak kan berhenti menulis"
itu ucapku. kertas saksiku.
udara mengepungku.
dan terus begitu.
terus begitu.

dulu aku bercerita.
bercerita, menjelaskan cakrawalaku yang jujur saja sempit
meluas. meluas.
makin buta mataku.

kau mungkin bisa melihat kini.

lihatlah, bagaimana diksi ku sekarang.
lihatlah betapa hina nya aku memindai semua huruf dan membutuhkan waktu untuk menyerapnya
lihatlah,
betapa bodoh aku sekarang.

ini mungkin memang sedikit aneh,
berbumbukan penyesalan.
aku menjauhi mu.
duniaku yang seharusnya kugenggam untukku.
tapi aku hanya makin ciut dengan orang orang yang mendesak ingin masuk,
yang bisa masuk, kedalamnya.
dan aku juga sesak, sesak memagat udara sehingga aku minta keluar.

ku nikmati dunia luar ku.
entah dimana aku menulis sekarang.
entah kapan waktuku membaca sekarang.
entah dimana mukaku dihadapanmu.

aku memang berjanji tidak akan berhenti.
aku mengakui aku berubah.
ku akui lagi, aku tak yakin perubahanku baik.
dan kuakui lagi,
dulu aku tidak seperti ini.
dan inilah titik hampaku.