ditulis saat ini juga
Penggemarmu
hai, perkenalkan.
aku adalah seorang penggemarmu.
kau mungkin tidak melihat aku.
tapi mataku mengawasi sudut sudut tanganmu,
atau derap tegas kakimu.
jika kau menyadari keberadaanku
kemungkinan besar aku sedang disampingmu
berdiri, ataupun duduk
membiaskan rasa rasa yang menakjubkan,
menjadi tampak biasa saja
aku adalah yang diam saat mendengarkan permainan gitarmu,
atau gumam gumam lirik kecil darimu
aku adalah yang paling meresapi--walaupun aku tahu aku kadang tidak mengerti sama sekali dengan apapun yang engkau mainkan
aku adalah yang menatap dalam pupil matamu,
saat kau sibuk menceritakan opini mu yang diluar batas fikirku
semacam kau adalah sebuah dunia baru
ku simak sebaik mungkin apapun yang engkau katakan
aku manfaatkan segala hal yang melintas diotakku untuk memberikan respon, atau hanya sekedar tawa
aku adalah yang membaca tulisanmu
aku adalah yang mengutip, dan menyadurnya untuk kehidupanku sewaktu waktu
tulisanmu seringkali ajaib
tulisanmu adalah hal yang paling mudah aku ingat
ya. sama seperti kata katamu.
bagiku, kamu dan pemikiranmu adalah hal yang luar biasa.
hal yang tak akan pernah aku dapat dari orang lain.
aku adalah yang mengikuti langkah kakimu
dan yang paling aku syukuri adalah :
aku adalah yang menggenggam tanganmu.
aku adalah yang menggenggam hatimu.
kurang beruntung apa aku?
aku jatuh cinta padamu.
aku tahu hinanya aku mengukir diksi diksi yang tak terasa seperti puisi ini, tapi mohon.
izinkan aku menjadi penggemarmu?
Minggu, 21 Oktober 2012
Rabu, 03 Oktober 2012
Perenungan
Perenungan
37-369
18 April 2011
Mata yang mempunyai tatapan hampa belum tentu isinya tak bernyawa
Bibir yang menutup dan berlidah kelu tak pasti inginnya tak berseru
Telinga yang menghambat segala gelombang,
manatau ia hanya membuka pada yang benderang
Barisan kulit yang mendiam kaku,
mungkin akan memberontak di masa beku
Dan hidung yang perlahan mengendus,
siapa tau memecahkan hening yang terhembus
Mereka-mereka hanya pengantar,
dari apa yang disusun manusia,
didalam sanubari yang tegar,
dan menabur mimpi yang mendera
Hati atur semuanya
Hati pegang seutuhnya
Kendali. Terbang.
Mati
----------------------
sorry for some bad diction. biasa, duaribu sebelas.
37-369
18 April 2011
Mata yang mempunyai tatapan hampa belum tentu isinya tak bernyawa
Bibir yang menutup dan berlidah kelu tak pasti inginnya tak berseru
Telinga yang menghambat segala gelombang,
manatau ia hanya membuka pada yang benderang
Barisan kulit yang mendiam kaku,
mungkin akan memberontak di masa beku
Dan hidung yang perlahan mengendus,
siapa tau memecahkan hening yang terhembus
Mereka-mereka hanya pengantar,
dari apa yang disusun manusia,
didalam sanubari yang tegar,
dan menabur mimpi yang mendera
Hati atur semuanya
Hati pegang seutuhnya
Kendali. Terbang.
Mati
----------------------
sorry for some bad diction. biasa, duaribu sebelas.
Langganan:
Postingan (Atom)