Selasa, 10 Desember 2013

Kacamata

Kacamata


“ Aku berbeda. Hal hal yang bagiku penting biasanya tak penting bagi orang-orang. Begitulah sebaliknya. “

Aku menghitung-hitung semua alat tulisku. Diskusi matematika baru saja berakhir di tempat aku kursus bimbingan belajar. Semua orang sudah mulai beranjak pergi, mengucapkan salam perpisahan padaku yang masih sibuk membereskan barang-barangku yang tak tanggung banyaknya. Kertas-kertas, pensil, pena, penghapus, kalkulator, aku harus benar benar cermat karena aku tahu apa yang akan terjadi pada diriku kalau salah satu dari mereka hilang. Mungkin kalian akan menemukan mayatku karenanya. Aku melepaskan kacamataku, mengerjap beberapa kali. Kerjapan terakhir membuatku menyadari tidak ada lagi temanku yang tersisa. Teman-teman yang tadi beramai bertanya tentang bahan matematika untuk ulangan esok, sekarang sudah hilang. Aku tak peduli. Aku simpan semua barang-barangku tadi kedalam tas ku yang besar. Tas ku yang terlalu besar untuk badanku yang kecil. Aku jalan menunduk, alasan sederhananya karena tak suka berpandangan dengan tatapan orang tak kukenal, terasa begitu mengintimidasi.
                Langkahku sampai ke sepeda motorku. Tak kusangka malam telah segelap ini. aku mulai cemas ibuku mencemaskanku. Aku mempercepat gerakanku.
                “ hati-hati, Fan. “ ternyata ada temanku yang juga ikut berdiskusi tadi, masih berada diparkiran.
                “ oh, ya. Makasih ya! “ aku menjawab acuh tak acuh.
                “ nggak pake kacamata, Fan? “
                “ ngg..hah? aku biasanya emang nggak pakai kacamata kalau bawa motor. “
                “ pakailah. “
                “ hmm..malaas. “
                “ pakailah. Malam. “ lelaki sebayaku ini menegaskan keadaan gelap yang harus ku tempuh untuk sampai rumah. Aku tersenyum. Entah kenapa bergerak merogoh tas dengan semangat, dan memakai kacamataku. Rasanya sangat aneh melihat jalan dengan “jelas”.
                “ ahaha, iya. Makasih ya! Aku pergi dulu! “

----
Sampai dirumah, penatku keterlaluan. Sembari melepas tas, dasi, ikat pinggang, aku membuka handphoneku yang mungkin sudah 4 jam semenjak aku mulai les tak ku lihat.
“ kamu udah sampai rumah? Kamu jangan lupa makan ya, nanti kamu sakit. “

Raut wajahku hambar. Aku memutuskan untuk membalas pesan itu nanti sajalah.

                

dan yah, hal yang tidak penting terasa nyaman sekali. hal yang penting itu, tipikal.


-ditulis saat ini juga. agak fakta. agak masa lalu.