Kacamata
“ Aku berbeda.
Hal hal yang bagiku penting biasanya tak penting bagi orang-orang. Begitulah
sebaliknya. “
Aku
menghitung-hitung semua alat tulisku. Diskusi matematika baru saja berakhir di
tempat aku kursus bimbingan belajar. Semua orang sudah mulai beranjak pergi,
mengucapkan salam perpisahan padaku yang masih sibuk membereskan
barang-barangku yang tak tanggung banyaknya. Kertas-kertas, pensil, pena,
penghapus, kalkulator, aku harus benar benar cermat karena aku tahu apa yang
akan terjadi pada diriku kalau salah satu dari mereka hilang. Mungkin kalian
akan menemukan mayatku karenanya. Aku melepaskan kacamataku, mengerjap beberapa
kali. Kerjapan terakhir membuatku menyadari tidak ada lagi temanku yang
tersisa. Teman-teman yang tadi beramai bertanya tentang bahan matematika untuk
ulangan esok, sekarang sudah hilang. Aku tak peduli. Aku simpan semua
barang-barangku tadi kedalam tas ku yang besar. Tas ku yang terlalu besar untuk
badanku yang kecil. Aku jalan menunduk, alasan sederhananya karena tak suka
berpandangan dengan tatapan orang tak kukenal, terasa begitu mengintimidasi.
Langkahku sampai ke sepeda
motorku. Tak kusangka malam telah segelap ini. aku mulai cemas ibuku
mencemaskanku. Aku mempercepat gerakanku.
“ hati-hati, Fan. “ ternyata ada
temanku yang juga ikut berdiskusi tadi, masih berada diparkiran.
“ oh, ya. Makasih ya! “ aku
menjawab acuh tak acuh.
“ nggak pake kacamata, Fan? “
“ ngg..hah? aku biasanya emang
nggak pakai kacamata kalau bawa motor. “
“ pakailah. “
“ hmm..malaas. “
“ pakailah. Malam. “ lelaki
sebayaku ini menegaskan keadaan gelap yang harus ku tempuh untuk sampai rumah.
Aku tersenyum. Entah kenapa bergerak merogoh tas dengan semangat, dan memakai
kacamataku. Rasanya sangat aneh melihat jalan dengan “jelas”.
“ ahaha, iya. Makasih ya! Aku
pergi dulu! “
----
Sampai dirumah,
penatku keterlaluan. Sembari melepas tas, dasi, ikat pinggang, aku membuka
handphoneku yang mungkin sudah 4 jam semenjak aku mulai les tak ku lihat.
“ kamu udah sampai rumah? Kamu jangan lupa makan
ya, nanti kamu sakit. “
Raut wajahku
hambar. Aku memutuskan untuk membalas pesan itu nanti sajalah.
dan yah, hal yang tidak penting terasa nyaman sekali. hal yang penting itu, tipikal.
-ditulis saat ini juga. agak fakta. agak masa lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar