Tampilkan postingan dengan label ditulis saat ini juga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ditulis saat ini juga. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Juli 2016

Berjudi

Ditulis saat ini juga

Sambil tak bisa tidur
Aku berjudi dengan pikiranku
Dia bilang dia akan pasang banyak
Bayar mahal
Aku setuju
Aku yakin dia akan kalah
Kami mulai bermain
Kartu diserakkan dan aku
menebak langkah-langkah yang
sekiranya palsu
Ia berkelit terus memainkan
perannya yang
terasa berganti-ganti
Aku tetap ingin mendapatkan
yang telah ia taruh
meski tak pandai berbohong
dan rentan ditipu

Tak disangka
Dia menang
Harusnya aku menang
Dimana sejatinya sang tuan bisa mengatur yang ia miliki?

Tak disangka
Dia menang
Kini aku kalah taruhan
Kehilangan kemampuan untuk melupakan
kekalahan


Yogyakarta, 23 Juli 2016
Penulis baru ditipu kemarin pagi, uangnya yang hilang, namun yang lebih hilang adalah kesehatan pikirannya.
Berhati-hatilah, ya.

Selasa, 19 Juli 2016

Hanya Sampai Disitu

Hanya Sampai Disitu
Ditulis saat ini juga

Aku tahu kita hanya sekedar bisikan angin
Menuju gerimis
Dan decitan pintu kala dibuka
Aku mengetuk-ngetukkan kuku ke kaca jendela
Berharap engkau mendengar dentuman yang bertubi

Ibu, ajarkan aku menatap
Menatapnya dengan bahasa yang dimengertinya
Menyentuhnya tanpa mengauskan kulitnya
Menjejakkan tapak kakiku
Jauh ke jantungnya

Betapa tidak mungkin
Jua yang mampu aku lakukan hanyalah
Bernapas sengal
Bila kulihat dia di laut

Hanya sampai disitu

Minggu, 13 Desember 2015

Aku-sentris

ditulis saat ini juga

Sesampainya disini
Aku membaca tulisanku sendiri
Sambil mendengarkan suaraku sendiri
Di bawah hujan, yang mengguyurku
Aku menyentuh tanganku sendiri.
Dingin, ujarku.
Kemudian ku peluk diriku sendiri.

Pelukan sampai subuh.

Maka, sampai lagi di hari ini
Saat kutanya pada cermin,
sedang apa kemarin pagi?
Ku simak jawabanku sendiri.
Melukis wajahku,
ujarku.
Tawaku meledak.
Bersamaku

Kami tertawa sampai subuh

Sesampainya disini
Aku. Disana juga aku.
Mau sampai kapan?

Selasa, 10 Desember 2013

Kacamata

Kacamata


“ Aku berbeda. Hal hal yang bagiku penting biasanya tak penting bagi orang-orang. Begitulah sebaliknya. “

Aku menghitung-hitung semua alat tulisku. Diskusi matematika baru saja berakhir di tempat aku kursus bimbingan belajar. Semua orang sudah mulai beranjak pergi, mengucapkan salam perpisahan padaku yang masih sibuk membereskan barang-barangku yang tak tanggung banyaknya. Kertas-kertas, pensil, pena, penghapus, kalkulator, aku harus benar benar cermat karena aku tahu apa yang akan terjadi pada diriku kalau salah satu dari mereka hilang. Mungkin kalian akan menemukan mayatku karenanya. Aku melepaskan kacamataku, mengerjap beberapa kali. Kerjapan terakhir membuatku menyadari tidak ada lagi temanku yang tersisa. Teman-teman yang tadi beramai bertanya tentang bahan matematika untuk ulangan esok, sekarang sudah hilang. Aku tak peduli. Aku simpan semua barang-barangku tadi kedalam tas ku yang besar. Tas ku yang terlalu besar untuk badanku yang kecil. Aku jalan menunduk, alasan sederhananya karena tak suka berpandangan dengan tatapan orang tak kukenal, terasa begitu mengintimidasi.
                Langkahku sampai ke sepeda motorku. Tak kusangka malam telah segelap ini. aku mulai cemas ibuku mencemaskanku. Aku mempercepat gerakanku.
                “ hati-hati, Fan. “ ternyata ada temanku yang juga ikut berdiskusi tadi, masih berada diparkiran.
                “ oh, ya. Makasih ya! “ aku menjawab acuh tak acuh.
                “ nggak pake kacamata, Fan? “
                “ ngg..hah? aku biasanya emang nggak pakai kacamata kalau bawa motor. “
                “ pakailah. “
                “ hmm..malaas. “
                “ pakailah. Malam. “ lelaki sebayaku ini menegaskan keadaan gelap yang harus ku tempuh untuk sampai rumah. Aku tersenyum. Entah kenapa bergerak merogoh tas dengan semangat, dan memakai kacamataku. Rasanya sangat aneh melihat jalan dengan “jelas”.
                “ ahaha, iya. Makasih ya! Aku pergi dulu! “

----
Sampai dirumah, penatku keterlaluan. Sembari melepas tas, dasi, ikat pinggang, aku membuka handphoneku yang mungkin sudah 4 jam semenjak aku mulai les tak ku lihat.
“ kamu udah sampai rumah? Kamu jangan lupa makan ya, nanti kamu sakit. “

Raut wajahku hambar. Aku memutuskan untuk membalas pesan itu nanti sajalah.

                

dan yah, hal yang tidak penting terasa nyaman sekali. hal yang penting itu, tipikal.


-ditulis saat ini juga. agak fakta. agak masa lalu.

Jumat, 05 Juli 2013

Waktu ku habis di Jalan

ditulis saat ini juga

Waktu ku Habis di Jalan

Waktuku habis dijalan, yang sesak pepat sesak pengap
padahal udara memang menerpa kencang kencang
tapi lelahku disebabkan jalan
tanya kenapa

waktuku habis dijalan, jauh lubang jauh memelan
tiba ditujuan bukan lega terpampang
mata ingin tidur, kaki ingin selunjur
tapi tidak mampu lah setelahnya

jalan membuatku paham arti penat
dan membuatku gila berandai terbang

Senin, 04 Maret 2013

Patung Kaca yang Berbau Bangkai

Patung Kaca yang Berbau Bangkai

ditulis saat ini juga

mereka menyebutku patung kaca yang berbau bangkai.
memang benar, di rupaku yang begitu indah tercium bau bangkai yang menusuk
tanganku yang terpahat gemulai seperti tak sanggup menarik mereka untuk menikmati parasku
bagi orang orang yang berlalu lalang,
aroma keji ini menggerakkan kepala mereka untuk menggeleng keras,
dan mencaci pedas.

kudengar lamat-lamat,
seorang pemahat berkata "ambil kampakku, ku akan tebas kepalanya dan hilanglah busuk ini!"
maka dilakukannya lah.
aku mengerang sakit--tentu saja mereka tak dengar--walaupun setajam-tajamnya kampak tak kan mampu menghancurkanku.
seorang lainnya berusaha membakarku, menembakku, dan kadang dengan pisau kecil iseng menusuk-nusuk punggungku
ku diam saja. tak bisa senyum tak bisa pilu ku diam saja.
segala upayanya, segala upayaku, tak ada yang mampu.
bersikeras tuk memusnahkan.
bukan maksudku bersikeras pula tetap hidup, tapi memang tiada kuasa yang mampu melumatku hingga merubahku jadi keping

kurasa kuat
orang-orang yang kutuk kutuk tak jelas
orang-orang yang tatap tatap sinis
orang-orang yang tarik tarik jauh
dayaku apalah
muakku tak terbalaslah

puncaknya disini,
saat mereka semua mengepungku, kali ini satukan kekuatan untuk membinasakanku
untuk pertama kalinya,
untuk pertama kalinya telinga mereka mendengar suaraku
yang datar lembut mencekamkan

" hai manusia, saat kalian didekatku, aku merasakan bau sampah yang sangat menyengat "

gemeretak terdengar pelan,
lalu ku kepingkan diri ku sendiri
aku melebur, bertumpuk beling-belingku di tanah
walaupun mataku pecah, kulihat semua yang disana melongo tak percaya
juga ntah kenapa, menangis terisak isak meratap.

tentu saja.
deritaku bukanlah saat ditusuk atau dicerca,
tapi saat hidungku mencium bau sampah yang berulat dari tubuh manusia.
aku yang merdeka.

kalian juga kah?

Jumat, 01 Februari 2013

Pura-Pura

Pura-Pura

ditulis saat ini juga

tutup mata saya dengan apapun yang bergerak,
yang bernafas,
yang memamah biak,
yang membunuh.
tanpa pisau yang keji, tanpa parang yang menghunus
hanya dengan halauan bisikan
pelan merajam
lupa perasaan
saya mati
suaranya mekik
saya pusing
saya pura pura tak apa
saya pura pura bersenda
saya mati
saya mati

nyawa saya yang nyata terkepung di jempol kaki.
sisanya pura-pura
saya pura pura lagi, saya pura pura saya tak bisa pura pura

Senin, 21 Januari 2013

Nafas Pendek

Nafas Pendek

ditulis saat ini juga

kalau saja ada yang mengerti
kenapa ku hela nafas nafas pendek ini
yang mencekik pelan kala berkedip
yang merajam kuat kala disunyi

kalau saja ada yang mengerti
untuk siapa nafas nafas pendek ini
menoleh lah sebentar. tenangkan dalam buaian kelembutan.
saya menutup pucat pasinya badan karena mesti terlihat kuat,
cemerlang

kalau saja ada yang mengerti
betapa menyiksanya nafas nafas pendek ini
lari semuanya membopong kecil badanku
kalau mau bisa saja bahu membahu,
karena bebanku berat
bebanku berat.

kalau saja ada yang mengerti
cara membantuku menenangkan nafas nafas pendek ini
kan kubayar. berapapun.
berapapun.
entah kau ingin menghentakkan nafasku hingga kembali,
atau memotongnya hingga mati.
cukup membantu.


Selasa, 25 Desember 2012

gerimis

Gerimis

ditulis saat ini juga 

gerimis
gerimis menggelitik-gelitik
menyuruhku pulang
angin bersiul
menyuruhku tengadahkan kepala
apa? gelap?
tak bersuara
daun mengilu
hai, mengertilah.
aku tertawa kecil.
tengkukku lembab, berair
gerimis sedikit genit
baik, baik
aku pulang.
aku akan melipat tanganku.
tak akan mengganggu lagi.
kupeluk basahnya suhu hari ini
dan masuk ke rumah.


Minggu, 21 Oktober 2012

Penggemarmu

ditulis saat ini juga

Penggemarmu

hai, perkenalkan.
aku adalah seorang penggemarmu.
kau mungkin tidak melihat aku.
tapi mataku mengawasi sudut sudut tanganmu,
atau derap tegas kakimu.
jika kau menyadari keberadaanku
kemungkinan besar aku sedang disampingmu
berdiri, ataupun duduk
membiaskan rasa rasa yang menakjubkan,
menjadi tampak biasa saja
aku adalah yang diam saat mendengarkan permainan gitarmu,
atau gumam gumam lirik kecil darimu
aku adalah yang paling meresapi--walaupun aku tahu aku kadang tidak mengerti sama sekali dengan apapun yang engkau mainkan
aku adalah yang menatap dalam pupil matamu,
saat kau sibuk menceritakan opini mu yang diluar batas fikirku
semacam kau adalah sebuah dunia baru
ku simak sebaik mungkin apapun yang engkau katakan
aku manfaatkan segala hal yang melintas diotakku untuk memberikan respon, atau hanya sekedar tawa
aku adalah yang membaca tulisanmu
aku adalah yang mengutip, dan menyadurnya untuk kehidupanku sewaktu waktu
tulisanmu seringkali ajaib
tulisanmu adalah hal yang paling mudah aku ingat
ya. sama seperti kata katamu.
bagiku, kamu dan pemikiranmu adalah hal yang luar biasa.
hal yang tak akan pernah aku dapat dari orang lain.
aku adalah yang mengikuti langkah kakimu
dan yang paling aku syukuri adalah :
aku adalah yang menggenggam tanganmu.

aku adalah yang menggenggam hatimu.
kurang beruntung apa aku?
aku jatuh cinta padamu.
aku tahu hinanya aku mengukir diksi diksi yang tak terasa seperti puisi ini, tapi mohon.
izinkan aku menjadi penggemarmu?

Rabu, 29 Agustus 2012

Dulu

ditulis saat ini juga.

DULU

dulu aku membaca,
membaca segalanya.
tak ada yang membatasiku.
mereka bukanlah dinding dinding tajam.
aku membaca segala macam aksara,
bahkan jika perlu ku raba, dan ku telan hidup hidup

ku baca. semua.
apa, apapun yang iya atau pun tidak,
semua. semauku. mendalamimu.

dulu aku menulis.
menulis hingga janji dan ikrar yang kutulis
"tak kan berhenti menulis"
itu ucapku. kertas saksiku.
udara mengepungku.
dan terus begitu.
terus begitu.

dulu aku bercerita.
bercerita, menjelaskan cakrawalaku yang jujur saja sempit
meluas. meluas.
makin buta mataku.

kau mungkin bisa melihat kini.

lihatlah, bagaimana diksi ku sekarang.
lihatlah betapa hina nya aku memindai semua huruf dan membutuhkan waktu untuk menyerapnya
lihatlah,
betapa bodoh aku sekarang.

ini mungkin memang sedikit aneh,
berbumbukan penyesalan.
aku menjauhi mu.
duniaku yang seharusnya kugenggam untukku.
tapi aku hanya makin ciut dengan orang orang yang mendesak ingin masuk,
yang bisa masuk, kedalamnya.
dan aku juga sesak, sesak memagat udara sehingga aku minta keluar.

ku nikmati dunia luar ku.
entah dimana aku menulis sekarang.
entah kapan waktuku membaca sekarang.
entah dimana mukaku dihadapanmu.

aku memang berjanji tidak akan berhenti.
aku mengakui aku berubah.
ku akui lagi, aku tak yakin perubahanku baik.
dan kuakui lagi,
dulu aku tidak seperti ini.
dan inilah titik hampaku.