Jumat, 26 Juli 2013

Apa yang Diingat, Dilupa, dan Diresap Cahaya

4-404
26 Juli 2013

Apa yang Diingat, Dilupa, dan Diresap Cahaya

saya pernah lemparkan mutiara kedalam lumpur
saya sangka dia melebur
tapi tidak. masih silau mata saya,
saat ia tertawa-tawa digelitiki matahari

karena hidup seperti ini

cahaya tidak akan pernah lupa padam
tetapi tidak pernah lupa berikrar benderang
sematkan saja semangat, mengacu energi
seakan esok mati
seakan esok mati

seakan esok mati

cahaya masih ingat kapan dia tenggelam

Daun

13-82
16 April 2009

Daun

seandainya daun itu bisa membawa aku terbang
untuk pergi kemana aku akan terus berpijak
tapi buukan daun yang membawa aliran darahku yang setiap detiknya menarik aku ke alam berbeda
karena aku hanya setitik pasir yang berharap,
sehelai daun akan membawa aku ke sebuah dunia
aku hidup udara pahit kotor yang tak bisa aku jual
karena hijaunya bukanlah kehidupanku
karena aku bukanlah penghasil kehidupan
dia pemasak sejati, aku jadi malu
bagaimana jika, satu kawananmu mati.
satu kawananku akan lenyap tanpa bekas.

Kucari

13-101
14 Juli 2009

Kucari

kertas ini mencari identitasku
disetiap kata yang aku ucap
disetiap hati yang aku singgah
disetiap malam yang aku salah

kertas ini mencari jawabanku
disetiap umur yang aku habiskan
disetiap suram yang aku jalankan
pahami aku, sebelum aku terbang ke awan

kertas ini kucari bagaimanaku
ini bukan pilihan, aku bukan jawaban
berhari ku tempuh
berjalan ku rapuh

kucari hidup tiada henti
kucari nafsuku tanpa arah
bagaimana mungkin aku berhenti
sementara hampa didalam tubuhku ini

Dendam

41-211
3 Februari 2010

Dendam

ada sebuah tali yang regang
dibalik keributan yang kini lengang
yang terus regang, apapun menjelang
hinggapun tegang

lama-lama ia tak tahan
dengan berat hati, ingin mencekik diri sendiri
tak mungkin mati pelan-pelan
dipastikan tak mungkin berlari

ada dendam yang menyelingi,
kita satu sama lain
yang berpura-pura melemah,
dan tak disangka-sangka selalu ingin melilit


ada dendam yang membaluti,
hati satu sama lain
hanya akan ada satu pemenang
yang ingin menang sendiri
yang kalah urungkan diri
yang hilang kuatkan diri
perasaan ini menghasut bukan main

Berjalan

53-270
24 Agustus 2010

Berjalan

Teryakinkan atau tidaknya,
seharusnya aku masi tegak
mendapati hal-hal yang tak penting
sayangnya aku harus terima

menjejalkan segalanya
merasa ada kesenangan
yang mungkin menimbulkan benci

maka aku takkan berhenti
masih aku terus melaju
walau perih masih menanti

jangan paksa aku menatap matahari
tapi percayakan aku untuk melakukannya

Tanda Tanya

5-336
24 Januari 2011

Tanda Tanya

Ada sebuah konotasi,
dari lambaian jari yang terhembus
--tanda tanya--

tanda tanya itu masih kosong
siapatah kiranya yang mampu mengisi
reling-relungnya masih berdebu
retoris itu sampai kini tak berjawab

mungkinkah aku berani menoleh?
ya, tanda tanya itu masih tetap kosong
tidak bergerak, tidak bergeming
sering kutanyakannya, seiring kulupa maknanya

masih senyap teman-teman
isilah tanda tanya itu
tak sekiranya aku berani menunduk
tegakpun aku masih diancam oleh tanda tanya itu

" Cepat atau lambat, kau harus isi aku! "

Pendar

22-151
13 November 2009

Pendar

Di kehidupan yang hilang aku terdiam
Mengertikah aku tentang indahnya hidup
Penuh dengan kegelimpangan serta merta
Aku masih berjiwa

Kini aku kan tumbuh menjadi orang yang entah bagaimana

Kau tumbuh hanya dengan sentuhan air muka

Aku akan terus berjalan, menyusuri malam-malam yang kelam

Ku akhiri, jangan ku sesali

Aku hidup diatas batu yang keras
dan sesekali jatuh mendadak
Aku kini bakal hilang jatuh
Sementara diksiku babak belur

Di pendarnya muka pucat aku bertanya,
meskikah aku mati?

Guruku

16-297
14 November 2010

Guruku

Pagi ini aku pergi sekolah
Terbangun telat, terburu-buru sudah
Ibuku tak sempat memberi sarapan
Parahnya dia lupa kasih jajan

Hingga keluar main aku kelaparan
Tapi malu minjam uang ke teman
Hingga guruku memperhatikan aku
Tersudut cemberut lapar diperut

Oh, guruku
Engkau berikan aku uang seribu
Untuk membeli roti bobo
Yang plastiknya ada gambar bobo

Oh, guruku
Jasamu hari ini sungguh berjasa
Walaupun ku butuh lima ratus lagi untuk Aqua
Tapi aku cukup bahagia
Engkau guruku, sungguh membuat bangga

Wajah

26-415
5 Agustus 2011

Wajah

Hanya hitungan menit aku menyimak kata-kata dari seorang dirimu
dan hanya hitungan itu pula aku menatap matamu
padahal kau tak menyadarinya.
Hanya sesebentar itu.
Hanya saja, cinta mengobrak-abrik waktu hingga melekat begitu nyata
Terasa terulang dan mengulang semu
Wajah yang bertutur kata
Walau tiada senyum terlempar
Walau tiada tatapan tertangkap
Tapi aku merekamnya dengan jelas
Batas-batas peluhmu yang tak kasat
Hanya tadi, hitungan tadi
Ku benar-benar menyimpan bayanganmu dengan jelas
Lihat? apa yang telah cinta lakukan kepadaku?
Hanya dengan melhatmu, maka beribu aksara,
beratus kata,
dan berpuluh baik akan aku lontarkan,
hanya untuk merincikan seberapa indah wajahmu dimataku

Jumat, 05 Juli 2013

Waktu ku habis di Jalan

ditulis saat ini juga

Waktu ku Habis di Jalan

Waktuku habis dijalan, yang sesak pepat sesak pengap
padahal udara memang menerpa kencang kencang
tapi lelahku disebabkan jalan
tanya kenapa

waktuku habis dijalan, jauh lubang jauh memelan
tiba ditujuan bukan lega terpampang
mata ingin tidur, kaki ingin selunjur
tapi tidak mampu lah setelahnya

jalan membuatku paham arti penat
dan membuatku gila berandai terbang

Selasa, 02 Juli 2013

Lupa Dunia

58-500
25 juni 2013

Lupa Dunia

Kalau-kalau kau lupa dunia
sentuh kakimu
pastikan kau masih bersatu dengan tanah
menghamba meminta jatuh

ibu, aku ingin pindah
kutemukan apa inginku
tapi tak akan ku lepas sambutmu
temani aku berlari. itu saja.

karena kalau-kalau aku lupa dunia
sentuh dahiku
tarik lagi pelan daya khayalku yang sempit
memohonkan udara

selamat, selamat
terhadapmu ku tolehkan terus pandangan
sewaktu, sewaktu
seandainya ingatku
setiap, setiap
ada jaminan aku lebih baik?

setidaknya saati itu tak ku lupa dunia

ibu, rengkuh saja tubuhku saat pandanganku buram
kasarkan saja. ludahi saja.
malu aku jika lupa dunia
apa mauku?

kalau-kalau kau lupa dunia
sentuh lehermu
kau masih belum berhak meminta hujan
dan hina menikmatinya

hingga-hingga kau lupa kau telah lupa dunia.

---------

seni sastra terbiasa menjadi ibuku. iya mengenalkanku pada dunia yang mengizinkan aku berdansa dengan serba kata. aku meminta izin, di tulisan ke lima ratus ini, untuk membelah gerak tanganku. untuk tidak mengukir kertas, tetapi menggoresnya. meminta saja izin darimu, restu dan doa yang maya. perkenankanlah kiranya.