Rabu, 08 Mei 2013

Hujan Lupa Turun

40-482
6 Mei 2013

Hujan Lupa Turun

Ini detik keberapa.

Saya tengadahkan apa yang diam,
membuat tampungan.
Membuka mulut lebar-lebar,
mata tutup rapat-rapat
Tapi tak kunjung terasa,
walau anginnya sudah kucium
Walau aku sudah dijambak-jambak badai
Walau gemuruhnya kejutkan jantungku
Guruh, petir, kilat nyasar terus menyambarku,
walau matahari tutup warung
Padahal senja belum turut
Walau orang sudah berlarian,
delik-delik mata mencari atap.

Dan saya bukan mereka.
Saya meranggas, saya dibakar dunia.
Tapi sayang,
hujan lupa turun.

Rindu. Tentu saja.

38-480
30 April 2013

Rindu. Tentu saja.

Kata siapa langit dengar?
Dia saja berdusta kalau dia sedang benderang.
Larilah kau keluar kamar.
Tak ada itu,
cahaya yang mereka bicarakan.

Kata siapa debu bertanya?
Pura-pura diutus angin, jadi mata-mata
Kau sebut semuanya, kan?
dengan liarnya.
Mereka layang-layang tak jelas,
kelabui yang meyakinkan
Asa saja,
kelambu rupanya menyakitkan.

Jadi kisahnya kau nelangsa rindu
Mataku tahu, ucap cermin
Tak usah gembar-gembor.
Rindu. Tentu saja.
Tapi belajar lempar kunci buku harian ketengah laut,
atau lumpur sawah pun jadi.

-----------------

Simpan rindumu. Dia yang butuh, bukan dunia.

Kepada Senang

36-478
23 April 2013

Kepada Senang

Kepada senang,
janganlah hilang kendali kamu.
Bisa buta mata saya
Mati saya cepat

Sebab--

Kepada senang,
janganlah lompat-lompat kamu
Kamu kira mudah saya tahan cengar cengir?
Tak jelas, membikin malu!

Sebab--

Kepada senang,

Hai, jangan kau potong juga batinku,
senang.
Pelan-pelan sajalah

Sebab kamu itu roti manis mahal,
ku emut sedikit saja ya, remahnya?