18 Februari 2014
Kakak, Teruslah Menulis
ditulis tiba-tiba
Kakak, teruslah menulis
Agar besar badannya.
Kakak punya dunia.
Kakak hantam dunia.
Merdeka!
Kakak, teruslah menulis
Pada kakak, untuk kakak,
untuk saya yang terus membaca
dan untuk kakak yang terus menghamba
---bukan nasi yang kita minta,
tapi lelah yang kita tepis,
Kita benar?---
Kakak, teruslah menulis
Kakak lampu dan lenteraku
Atau obor. Ya, kakak oborku
Karena juta kali kan ku tiup
Kakak membahana, seperti singa
Seperti singa kakak,
Takut kita.
Kakak, teruslah menulis
Aku dan ketidak tahuanku,
menerka-nerka malu.
Apa yang terjadi? Kucing siapa yang mati?
Tapi takkan berani bertanya. Sumpah.
Kakak, teruslah menulis.
Sebab aku takkan aus membaca.
Terang maupun temaram, hening maupun bising
Menghabiskan petang
Tak mau pulang
Ingatlah, ada aku.
Aku takkan aus membaca.
Tertanda,
Bukan adikmu, bukan sepupumu,
apalagi kekasih gelapmu.
Tampilkan postingan dengan label ditulis tiba-tiba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ditulis tiba-tiba. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 22 Februari 2014
Bangkit Cepat-Cepat
12 Februari 2014
Bangkit Cepat-Cepat
ditulis tiba tiba
Mereka disuruh bangkit cepat-cepat
Karena nanti ada peluru nyasar
Padahal ada yang sedang patah hati
Patah sepatah patahnya,
akibat ditinggal mati.
Harus pulang sendiri.
Harus jalan sendiri.
(dan kalau ku sambung lagi,
suaraku menggema.
mereka tak jadi bangkit)
Bangun, saudaraku. Bangun.
Tak petang, tak pagi, kuharap kau bangun,
memunguti debu-debu.
Akibat engkau yang tersungkur.
Bangun, saudaraku. Bangun.
Sempat ku gempitakan lonceng, ku derukan semeru.
Ku harap kau terkejut.
Berlarian lupa daratan.
Dan sampai diseberang
Lalu lupa pulang
Dia tidak pergi sendirian
Tak usah cemaskan.
Maka sengau sengaukanlah doa
Ampun tuan, ampun nyonya
Sehamba sahaya
Izin bersedih, berucap selamat,
disana.
Namun janji bangkit lagi.
Akan bangkit lagi.
Cepat-cepat,
atau lamat-lamat.
----
puisi ini teruntuk aku, dan teman temanku, yang ditinggal temanku, teman kami, Alfathan.
Selamat jalan temanku. Kau bukan hanya tawa, bukan hanya seringai, bukan hanya peramai,
tapi kau adalah kami.
kami kehilangan,
tapi kami janji. kami akan bangkit cepat-cepat.
kami akan ujian, kami akan kuliah,
menjemput bahagia.
selamat, karena sudah bahagia lebih dulu, mendahului kami..
we love you :)
Bangkit Cepat-Cepat
ditulis tiba tiba
Mereka disuruh bangkit cepat-cepat
Karena nanti ada peluru nyasar
Padahal ada yang sedang patah hati
Patah sepatah patahnya,
akibat ditinggal mati.
Harus pulang sendiri.
Harus jalan sendiri.
(dan kalau ku sambung lagi,
suaraku menggema.
mereka tak jadi bangkit)
Bangun, saudaraku. Bangun.
Tak petang, tak pagi, kuharap kau bangun,
memunguti debu-debu.
Akibat engkau yang tersungkur.
Bangun, saudaraku. Bangun.
Sempat ku gempitakan lonceng, ku derukan semeru.
Ku harap kau terkejut.
Berlarian lupa daratan.
Dan sampai diseberang
Lalu lupa pulang
Dia tidak pergi sendirian
Tak usah cemaskan.
Maka sengau sengaukanlah doa
Ampun tuan, ampun nyonya
Sehamba sahaya
Izin bersedih, berucap selamat,
disana.
Namun janji bangkit lagi.
Akan bangkit lagi.
Cepat-cepat,
atau lamat-lamat.
----
puisi ini teruntuk aku, dan teman temanku, yang ditinggal temanku, teman kami, Alfathan.
Selamat jalan temanku. Kau bukan hanya tawa, bukan hanya seringai, bukan hanya peramai,
tapi kau adalah kami.
kami kehilangan,
tapi kami janji. kami akan bangkit cepat-cepat.
kami akan ujian, kami akan kuliah,
menjemput bahagia.
selamat, karena sudah bahagia lebih dulu, mendahului kami..
we love you :)
Langganan:
Postingan (Atom)