Menyalak
52-652
28 Oktober 2014
Dan kau menyalak bagai anjing,
yang hilang akan tuannya
Akibat apa?
Seharusnya dunia tahu
Apa yang aku tahu
Namun nampaknya
Tak ada bahkan satupun yang tahu
Napas yang kau hirup
Mungkin bekas orang lain
Siapa itu orang lain?
Tidak, tidak ada yang tahu
Tapi tetap menyalak bagai anjing,
yang hilang akan tuannya
Kamis, 11 Desember 2014
Bagaimana Kalau Kita Jatuh Cinta?
Bagaimana Kalau Kita Jatuh Cinta?
44-644
22 September 2014
Bagaimana kalau kita jatuh cinta?
Itu terdengar menyenangkan
Kita bisa berbagi minuman yang bukan kopi
Juga berbagi cerita yang bukan tragedi
Kita bisa pelan-pelan melintasi malam,
tanpa bergenggaman tangan.
Namun matamu, mataku
Beradu.
Namun matamu, mataku
Berpadu.
Kita usir kegelisahan
Kita mati sebagai pahlawan
Cerita kita dibukukan
Dan dijual di pasaran
Menarik, bukan?
44-644
22 September 2014
Bagaimana kalau kita jatuh cinta?
Itu terdengar menyenangkan
Kita bisa berbagi minuman yang bukan kopi
Juga berbagi cerita yang bukan tragedi
Kita bisa pelan-pelan melintasi malam,
tanpa bergenggaman tangan.
Namun matamu, mataku
Beradu.
Namun matamu, mataku
Berpadu.
Kita usir kegelisahan
Kita mati sebagai pahlawan
Cerita kita dibukukan
Dan dijual di pasaran
Menarik, bukan?
Ibu
Ibu
43-643
Ibu
Kalau memang darahku
Sudah tidak lagi menetes
Di lantaimu
Janganlah kau bersedih
Dan kalau memang peluhmu
Berkali lipat banyak menetes
Di lantaimu
Janganlah kau tersapih
Ibu
Ini janji--namun ku tahu lama untuk menjadi tunai
Tapi aku akan pulang
Mohon jangan bimbang
Petangku sama dengan petangmu
Maka mohon jangan bimbang
Hendak benar ku pulang
Kuasa apa ku pulang?
---------
Kepada ibuku,
Maaf sekali tidak bisa tidur dirumah, membantumu meringankan bebanmu seperti biasa. Maaf sekali tidak bisa jadi teman bicaramu saat duduk di teras, atau menemanimu menonton sinetron kesukaan kita. Tapi tahanlah dulu lelahmu, ibu. Karena bila nanti aku pulang, tak akan lagi ada dirimu membanting tulang dan memeras tenaga untuk kehidupanku.
Camkan itu.
Aku berjanji.
43-643
Ibu
Kalau memang darahku
Sudah tidak lagi menetes
Di lantaimu
Janganlah kau bersedih
Dan kalau memang peluhmu
Berkali lipat banyak menetes
Di lantaimu
Janganlah kau tersapih
Ibu
Ini janji--namun ku tahu lama untuk menjadi tunai
Tapi aku akan pulang
Mohon jangan bimbang
Petangku sama dengan petangmu
Maka mohon jangan bimbang
Hendak benar ku pulang
Kuasa apa ku pulang?
---------
Kepada ibuku,
Maaf sekali tidak bisa tidur dirumah, membantumu meringankan bebanmu seperti biasa. Maaf sekali tidak bisa jadi teman bicaramu saat duduk di teras, atau menemanimu menonton sinetron kesukaan kita. Tapi tahanlah dulu lelahmu, ibu. Karena bila nanti aku pulang, tak akan lagi ada dirimu membanting tulang dan memeras tenaga untuk kehidupanku.
Camkan itu.
Aku berjanji.
Cinta Lupa dengan Akal Sehat
Cinta Lupa dengan Akal Sehat
34 - 634
17 Juli 2014
Cinta lupa dengan akal sehat
Mereka mampu menghunus lagi mencium, dalam waktu yang sama
Cinta mencari apa yang akal sehat tak bisa
Nekad. Obsesi. Penasaran. Mati suri.
Mereka hadir dikala pelita yang mati pun tampak menerangi
Cinta pembius. Nadi-nadi yang serius
Menghantarkan pesan agar tak usah dilakukan
Namun cinta melakukannya.
Ya. Cinta melakukannya.
Makin menembus cakrawala tak terhingga, makin kembang hidungnya
Cinta adalah merpati
Makin tinggi engkau terbang, bukan alasan kau tak bisa tersenapang dan mati
Cinta lupa dengan akal sehat
Seperti akal sehat yang tak pernah ngerti cara cinta terdeskripsi
34 - 634
17 Juli 2014
Cinta lupa dengan akal sehat
Mereka mampu menghunus lagi mencium, dalam waktu yang sama
Cinta mencari apa yang akal sehat tak bisa
Nekad. Obsesi. Penasaran. Mati suri.
Mereka hadir dikala pelita yang mati pun tampak menerangi
Cinta pembius. Nadi-nadi yang serius
Menghantarkan pesan agar tak usah dilakukan
Namun cinta melakukannya.
Ya. Cinta melakukannya.
Makin menembus cakrawala tak terhingga, makin kembang hidungnya
Cinta adalah merpati
Makin tinggi engkau terbang, bukan alasan kau tak bisa tersenapang dan mati
Cinta lupa dengan akal sehat
Seperti akal sehat yang tak pernah ngerti cara cinta terdeskripsi
Jikalau
Jikalau
28-628
5 Juli 2014
Sungguh ini sebuah jikalau
Jikalau duri bertemu duri
Siapakah yang berdarah lebih dulu?
Jikalau kaca menepuk kaca
Siapakah yang beling lebih dulu
Dan jikalau gula bertemu gula
Siapakah yang dijilat semut lebih dulu
Sungguh ini sebuah jikalau
Jikalau mesti dikau memilih
Dan untuk tidak dipilih bukanlah sebuah pilihan bagi dua buah aku
Siapakah yang dibawa pulang lebih dulu?
Sungguh ini sebuah jikalau
Maka jadilah, ujar Tuhan
Maka hancurlah, ujar racauan
Ya. Pasti ku meracau.
28-628
5 Juli 2014
Sungguh ini sebuah jikalau
Jikalau duri bertemu duri
Siapakah yang berdarah lebih dulu?
Jikalau kaca menepuk kaca
Siapakah yang beling lebih dulu
Dan jikalau gula bertemu gula
Siapakah yang dijilat semut lebih dulu
Sungguh ini sebuah jikalau
Jikalau mesti dikau memilih
Dan untuk tidak dipilih bukanlah sebuah pilihan bagi dua buah aku
Siapakah yang dibawa pulang lebih dulu?
Sungguh ini sebuah jikalau
Maka jadilah, ujar Tuhan
Maka hancurlah, ujar racauan
Ya. Pasti ku meracau.
Kamis, 08 Mei 2014
Jatuh Cintanya
62-592
24 Februari 2014
Jatuh Cintanya
Maaf atas jatuh cintanya
Aduh. Astaga aduh.
Takkan ku ulangi lagi.
Hahaha. Hihihi.
Ya, maaf. Maaf.
Lucu jatuh cintanya.
Terkoyak dilantai.
Aduh astaga aduh.
Aku hendak bersimpuh.
Roti ini ku paruh.
Permintaan maafku.
Getir jatuh cintanya
Tembang kembang kepalang
Aduh astaga aduh.
Membentang benang kusut.
Angsur demi angsur
Permintaan maafku,
Hahaha. Hihihi.
Maaf atas jatuh cintanya.
24 Februari 2014
Jatuh Cintanya
Maaf atas jatuh cintanya
Aduh. Astaga aduh.
Takkan ku ulangi lagi.
Hahaha. Hihihi.
Ya, maaf. Maaf.
Lucu jatuh cintanya.
Terkoyak dilantai.
Aduh astaga aduh.
Aku hendak bersimpuh.
Roti ini ku paruh.
Permintaan maafku.
Getir jatuh cintanya
Tembang kembang kepalang
Aduh astaga aduh.
Membentang benang kusut.
Angsur demi angsur
Permintaan maafku,
Hahaha. Hihihi.
Maaf atas jatuh cintanya.
Aku Mencintainya
6 Mei 2014
Aku Mencintainya
Aku mencintainya
Aku ingin dia mati
Tapi tidak ditanganmu
Aku ingin dia mati
Saat sedang meminum racun
Yang berasal dari darahku
Aku mencintainya
Aku ingin dia sekarat
Aku ingin dia tersimpuh cacat
Agar ku tuntun jalannya
Agar ku hapus airmatanya
Aku mencintainya
Aku ingin dia mati
Tapi tidak hari ini,
tidak besok,
tidak besoknya lagi,
tidak besok-besoknya lagi.
Tidak detik ini.
Aku hanya ingin dia mati.
saat aku berlari.
Memeluk mayat lain.
Yang aku cintai.
Aku Mencintainya
Aku mencintainya
Aku ingin dia mati
Tapi tidak ditanganmu
Aku ingin dia mati
Saat sedang meminum racun
Yang berasal dari darahku
Aku mencintainya
Aku ingin dia sekarat
Aku ingin dia tersimpuh cacat
Agar ku tuntun jalannya
Agar ku hapus airmatanya
Aku mencintainya
Aku ingin dia mati
Tapi tidak hari ini,
tidak besok,
tidak besoknya lagi,
tidak besok-besoknya lagi.
Tidak detik ini.
Aku hanya ingin dia mati.
saat aku berlari.
Memeluk mayat lain.
Yang aku cintai.
Sahabat Lama
3 Mei 2014
Sahabat Lama
Sahabat lama
Ah, tak ada lagi sedikitpun ku tahu kabarnya
Padahal silam ku sampai hapal jumlah darahnya
Sahabat lama
Mampukah terkenang wajah busuk ini?
Yang kadang suka rela menyumbang tawa,
meski sedang menggalakkan tangis
Sahabat lama
Kalau nanti ntah dijalan banmu kempis
Atau kehabisan bensin
Telponlah aku ya
Tapi bagaimanalah caranya ku beritahu
Kalau rumahku tak disitu lagi
Aku sudah pindah tiga tahun
Menuju sahabat baru
Tapi sulit pula lah menyulut kisah seperti kita
Seandainya kau bisa membaca surat ini
Mungkin tulisanku sudah lain
Entah titik di huruf 'i' nya agak miring
Atau 'a' nya lebih bulat
Akupun tak paham
Mungkin tak layaknya aku
Aku yang kau kenal
Tapi hatiku tetaplah aku
Aku yang kau kenal
Tertanda, sahabatmu yang sebentar,
mengingatmu yang lama.
Sahabat Lama
Sahabat lama
Ah, tak ada lagi sedikitpun ku tahu kabarnya
Padahal silam ku sampai hapal jumlah darahnya
Sahabat lama
Mampukah terkenang wajah busuk ini?
Yang kadang suka rela menyumbang tawa,
meski sedang menggalakkan tangis
Sahabat lama
Kalau nanti ntah dijalan banmu kempis
Atau kehabisan bensin
Telponlah aku ya
Tapi bagaimanalah caranya ku beritahu
Kalau rumahku tak disitu lagi
Aku sudah pindah tiga tahun
Menuju sahabat baru
Tapi sulit pula lah menyulut kisah seperti kita
Seandainya kau bisa membaca surat ini
Mungkin tulisanku sudah lain
Entah titik di huruf 'i' nya agak miring
Atau 'a' nya lebih bulat
Akupun tak paham
Mungkin tak layaknya aku
Aku yang kau kenal
Tapi hatiku tetaplah aku
Aku yang kau kenal
Tertanda, sahabatmu yang sebentar,
mengingatmu yang lama.
Daftar Hitam
6-606
13 April 2014
Daftar Hitam
Kita buang jauh-jauh
Kembang yang baunya busuk
Kereta yang mesinnya aus
Sepatu yang solnya bapuk
Dan pensil yang kayunya lapuk
Yang penting,
jangan sampai terasuk
Kembang yang baunya busuk
Kereta yang mesinnya aus
Sepatu yang solnya bapuk
Dan pensil yang kayunya lapuk
Setidaknya,--kalau kau tidak tega--pura puralah,
Hirup kembang yang baunya busuk
Tunggang kereta yang mesinnya aus
Pijak sepatu yang solnya bapuk
Gerus pensil yang kayunya lapuk,
tapi ingat,
si daftar hitam.
13 April 2014
Daftar Hitam
Kita buang jauh-jauh
Kembang yang baunya busuk
Kereta yang mesinnya aus
Sepatu yang solnya bapuk
Dan pensil yang kayunya lapuk
Yang penting,
jangan sampai terasuk
Kembang yang baunya busuk
Kereta yang mesinnya aus
Sepatu yang solnya bapuk
Dan pensil yang kayunya lapuk
Setidaknya,--kalau kau tidak tega--pura puralah,
Hirup kembang yang baunya busuk
Tunggang kereta yang mesinnya aus
Pijak sepatu yang solnya bapuk
Gerus pensil yang kayunya lapuk,
tapi ingat,
si daftar hitam.
Faroh
5 Maret 2014
2-602
Faroh
Faroh, sebagai kekasih yang baik,
biarkan dia tidur.
Lelah betul dia melelapkanmu,
mengusap kepalamu,
tanpa hendak melenyapkanmu
Faroh, sebagai cinta bukan buatan
Diakibatkan pencarian,
--atau bukan--
dan kau, Faroh, sebagai perih berujung sedih,
Mengakibatkan rintih
--atau cekikik--
Faroh, sebagai kendali diri sendiri
Hirup kendalamu bagai api
Peluk yang datang, cium yang pulang
Tanpa sebut kembali
Ingat itu. Janji?
Faroh, sebagai kekasih yang baik,
biarkan engkau tidur.
Besok jalan terus, terbang terus, dan kau terus.
2-602
Faroh
Faroh, sebagai kekasih yang baik,
biarkan dia tidur.
Lelah betul dia melelapkanmu,
mengusap kepalamu,
tanpa hendak melenyapkanmu
Faroh, sebagai cinta bukan buatan
Diakibatkan pencarian,
--atau bukan--
dan kau, Faroh, sebagai perih berujung sedih,
Mengakibatkan rintih
--atau cekikik--
Faroh, sebagai kendali diri sendiri
Hirup kendalamu bagai api
Peluk yang datang, cium yang pulang
Tanpa sebut kembali
Ingat itu. Janji?
Faroh, sebagai kekasih yang baik,
biarkan engkau tidur.
Besok jalan terus, terbang terus, dan kau terus.
Sabtu, 22 Februari 2014
Kakak, Teruslah Menulis
18 Februari 2014
Kakak, Teruslah Menulis
ditulis tiba-tiba
Kakak, teruslah menulis
Agar besar badannya.
Kakak punya dunia.
Kakak hantam dunia.
Merdeka!
Kakak, teruslah menulis
Pada kakak, untuk kakak,
untuk saya yang terus membaca
dan untuk kakak yang terus menghamba
---bukan nasi yang kita minta,
tapi lelah yang kita tepis,
Kita benar?---
Kakak, teruslah menulis
Kakak lampu dan lenteraku
Atau obor. Ya, kakak oborku
Karena juta kali kan ku tiup
Kakak membahana, seperti singa
Seperti singa kakak,
Takut kita.
Kakak, teruslah menulis
Aku dan ketidak tahuanku,
menerka-nerka malu.
Apa yang terjadi? Kucing siapa yang mati?
Tapi takkan berani bertanya. Sumpah.
Kakak, teruslah menulis.
Sebab aku takkan aus membaca.
Terang maupun temaram, hening maupun bising
Menghabiskan petang
Tak mau pulang
Ingatlah, ada aku.
Aku takkan aus membaca.
Tertanda,
Bukan adikmu, bukan sepupumu,
apalagi kekasih gelapmu.
Kakak, Teruslah Menulis
ditulis tiba-tiba
Kakak, teruslah menulis
Agar besar badannya.
Kakak punya dunia.
Kakak hantam dunia.
Merdeka!
Kakak, teruslah menulis
Pada kakak, untuk kakak,
untuk saya yang terus membaca
dan untuk kakak yang terus menghamba
---bukan nasi yang kita minta,
tapi lelah yang kita tepis,
Kita benar?---
Kakak, teruslah menulis
Kakak lampu dan lenteraku
Atau obor. Ya, kakak oborku
Karena juta kali kan ku tiup
Kakak membahana, seperti singa
Seperti singa kakak,
Takut kita.
Kakak, teruslah menulis
Aku dan ketidak tahuanku,
menerka-nerka malu.
Apa yang terjadi? Kucing siapa yang mati?
Tapi takkan berani bertanya. Sumpah.
Kakak, teruslah menulis.
Sebab aku takkan aus membaca.
Terang maupun temaram, hening maupun bising
Menghabiskan petang
Tak mau pulang
Ingatlah, ada aku.
Aku takkan aus membaca.
Tertanda,
Bukan adikmu, bukan sepupumu,
apalagi kekasih gelapmu.
Bangkit Cepat-Cepat
12 Februari 2014
Bangkit Cepat-Cepat
ditulis tiba tiba
Mereka disuruh bangkit cepat-cepat
Karena nanti ada peluru nyasar
Padahal ada yang sedang patah hati
Patah sepatah patahnya,
akibat ditinggal mati.
Harus pulang sendiri.
Harus jalan sendiri.
(dan kalau ku sambung lagi,
suaraku menggema.
mereka tak jadi bangkit)
Bangun, saudaraku. Bangun.
Tak petang, tak pagi, kuharap kau bangun,
memunguti debu-debu.
Akibat engkau yang tersungkur.
Bangun, saudaraku. Bangun.
Sempat ku gempitakan lonceng, ku derukan semeru.
Ku harap kau terkejut.
Berlarian lupa daratan.
Dan sampai diseberang
Lalu lupa pulang
Dia tidak pergi sendirian
Tak usah cemaskan.
Maka sengau sengaukanlah doa
Ampun tuan, ampun nyonya
Sehamba sahaya
Izin bersedih, berucap selamat,
disana.
Namun janji bangkit lagi.
Akan bangkit lagi.
Cepat-cepat,
atau lamat-lamat.
----
puisi ini teruntuk aku, dan teman temanku, yang ditinggal temanku, teman kami, Alfathan.
Selamat jalan temanku. Kau bukan hanya tawa, bukan hanya seringai, bukan hanya peramai,
tapi kau adalah kami.
kami kehilangan,
tapi kami janji. kami akan bangkit cepat-cepat.
kami akan ujian, kami akan kuliah,
menjemput bahagia.
selamat, karena sudah bahagia lebih dulu, mendahului kami..
we love you :)
Bangkit Cepat-Cepat
ditulis tiba tiba
Mereka disuruh bangkit cepat-cepat
Karena nanti ada peluru nyasar
Padahal ada yang sedang patah hati
Patah sepatah patahnya,
akibat ditinggal mati.
Harus pulang sendiri.
Harus jalan sendiri.
(dan kalau ku sambung lagi,
suaraku menggema.
mereka tak jadi bangkit)
Bangun, saudaraku. Bangun.
Tak petang, tak pagi, kuharap kau bangun,
memunguti debu-debu.
Akibat engkau yang tersungkur.
Bangun, saudaraku. Bangun.
Sempat ku gempitakan lonceng, ku derukan semeru.
Ku harap kau terkejut.
Berlarian lupa daratan.
Dan sampai diseberang
Lalu lupa pulang
Dia tidak pergi sendirian
Tak usah cemaskan.
Maka sengau sengaukanlah doa
Ampun tuan, ampun nyonya
Sehamba sahaya
Izin bersedih, berucap selamat,
disana.
Namun janji bangkit lagi.
Akan bangkit lagi.
Cepat-cepat,
atau lamat-lamat.
----
puisi ini teruntuk aku, dan teman temanku, yang ditinggal temanku, teman kami, Alfathan.
Selamat jalan temanku. Kau bukan hanya tawa, bukan hanya seringai, bukan hanya peramai,
tapi kau adalah kami.
kami kehilangan,
tapi kami janji. kami akan bangkit cepat-cepat.
kami akan ujian, kami akan kuliah,
menjemput bahagia.
selamat, karena sudah bahagia lebih dulu, mendahului kami..
we love you :)
Minggu, 09 Februari 2014
Jatuh Cinta Terus
53-583
30 Januari 2014
Jatuh cinta terus
Jatuh cintalah
terus
Aku akan memantau
dari belakang
Bukan akibat niat
licik,
Atau nafsu
menelisik,
Sehingga tak
tahan ingin berisik, mengusik, mencabik
Anggap-anggapnya,
aku ingin tahu,
Apalah jadinya
jika,
Kalian jatuh
cinta terus.
Sebab aku pun
disini jatuh cinta terus
Sebab apakah aku
masih berlari di kisah yang sudah mati?
---
Jatuh cintalah
terus,
Sumber bahagiaku.
Yang kini kupatah
duakan,
Tapi malah hancur
berkeping-keping
Kuserahkan untuk
dia semua saja
Agar dia bisa
jatuh cinta terus,
Padamu,
Sumber bahagiaku.
Sumber bahagiaku.
Ada Wajah yang Ku Kenal
Ada Wajah yang Ku
Kenal
38 – 586
9 Desember 2013
Ada wajah yang ku
kenal
Dari kerubutan
siang-malam
Sibuk nan
sesibuk-sibuknya
Seperti stasiun
kereta
Berisik nan
seberisik berisiknya
Seperti sepatu
kuda
Ada wajah yang ku
kenal
Tanpa perlu
celingak celinguk
Tiada guna
memicing micing
Ada wajah yang ku
kenal
Namun tak berani
ku sapa
Dia lagi
terkikik-kikik
Takutnya sudah
lupa
Sudah lupa;
Sudah tak kenal
wajah yang mengenal wajahnya
Sangat. Amat.
Sangat
Kuku Panjang
Kuku Panjang
50-580
23 Januari 2014
Dia yang berkuku
panjang
Bangun tengah
malam
Karena menelan
obat tidur
Setengah setengah
Maka kesakitan
lehernya,
Dan panas
tenggorokannya
Itu akibatnya?
Bangun tengah
malam.
Dia yang berkuku
panjang.
Bangun tengah
malam
“mengganti malam
yang ku lewati”
Ujarnya
Apa benar?
Dipercaya?
Dia yang berkuku
panjang,
Kuku panjang,
Bohongnya luar
biasa.
Bakar
Bakar
48-578
17 Januari 2014
Tulis
sebanyak-banyaknya
Cepat, ayo cepat
Lalu bakar
Bakar hingga lupa
Agar saat
diungkit lagi
Kita bisa tidak
mengaku
Tak ada bekasnya
Aman saja untuk
bersumpah
Tapi jangan lupa
Sapu abunya.
Tiup dedebuannya
Harus bersih.
Sangat bersih.
Karena setitik
saja tertinggal
Bisa terbaca,
dengan lantang
Carut marutmu,
caci makimu, sumpah serapahmu,
Kesalmu, marahmu,
amukmu, cibiranmu,
Gemeretakmu,
baramu
Batal
Ada ucapan selamat tinggal
Ada Ucapan
Selamat Tinggal
46-576
12 Januari 2014
Ada ucapan
selamat tinggal,
Dari seberang
Begini katanya :
“ hai, belumlah
selamat datang,
Maka selamat
pergi
Tak apalah tak
mampir
Ada yang lain
Tampaknya
Tapi benarlah
Selamat tinggal!
Jangan tangiskan.
Bahagiakan
Hirup ombaknya.
Telan asinnya
Nanti bahagia
lagi
Selamat tinggal
Nanti bahagia
lagi.”
Rumah Kita Searah
Rumah Kita Searah
43-573
25 Desember 2013
Hai, teman
Jangan
sungkan-sungkan
Naik ke
punggungku
Rumah kita searah
Hai, teman
Jangan
segan-segan
Duduk di kudaku
Rumah kita searah
Hai, teman
Jangan plin plan
Persiskan langkah
kakimu
Rumah kita searah
Hai, teman
Jangan
pelan-pelan
Tegakkan kepalamu
Rumah kita searah
Langganan:
Postingan (Atom)