30-472
5 Maret 2013
Tatapan yang Tak Berhenti
Nanar, ada percikannya disitu
Jauh menggema ke semesta
Kedip, lupa terjadi disitu
Penting sepersekian jangan terlewat
Sempat kau lupa aku
Mungkin udara tak terhirup lagi
Gulung menggulung badai hampa menghembus
Ku telah mati sebelum yang lain lari pontang panting
Sebab tatapan yang tak berhenti,
dan ronanya yang terus terasa,
dan darahnya yang terus berbuih,
mencubit pelan.
Tak bisa keras.
Makanya, tak sadar-sadar.
Minggu, 31 Maret 2013
Selasa, 05 Maret 2013
Terbang Rendah
22-464
29 Desember 2012
Terbang Rendah
Malam ini aku terbang rendah
Bukan angkasa yang kucari
Peri-peri kecil berlarian menelan basah hujan
Melompat kegirangan
Atau katak-katak berhamburan renang-renang
Remang-remang
Malam ini aku terbang rendah
Bukan angin yang kucari
Aku meniti pelan sudut demi sudut
Demi sebuah tanda yang terpaut
Kalau saja ada chaya
Aku berhenti
Aku hendak berhenti.
Malam ini aku terbang rendah
kenapakah
Bukan sakit yang mendera
Tapi langit yang tak asyik lagi
Desir tembok siulan tiang bisa kuresapi
saat ini
Ini hanya sekali-sekali
Aku terbang rendah
Senin, 04 Maret 2013
Patung Kaca yang Berbau Bangkai
Patung Kaca yang Berbau Bangkai
ditulis saat ini juga
mereka menyebutku patung kaca yang berbau bangkai.
memang benar, di rupaku yang begitu indah tercium bau bangkai yang menusuk
tanganku yang terpahat gemulai seperti tak sanggup menarik mereka untuk menikmati parasku
bagi orang orang yang berlalu lalang,
aroma keji ini menggerakkan kepala mereka untuk menggeleng keras,
dan mencaci pedas.
kudengar lamat-lamat,
seorang pemahat berkata "ambil kampakku, ku akan tebas kepalanya dan hilanglah busuk ini!"
maka dilakukannya lah.
aku mengerang sakit--tentu saja mereka tak dengar--walaupun setajam-tajamnya kampak tak kan mampu menghancurkanku.
seorang lainnya berusaha membakarku, menembakku, dan kadang dengan pisau kecil iseng menusuk-nusuk punggungku
ku diam saja. tak bisa senyum tak bisa pilu ku diam saja.
segala upayanya, segala upayaku, tak ada yang mampu.
bersikeras tuk memusnahkan.
bukan maksudku bersikeras pula tetap hidup, tapi memang tiada kuasa yang mampu melumatku hingga merubahku jadi keping
kurasa kuat
orang-orang yang kutuk kutuk tak jelas
orang-orang yang tatap tatap sinis
orang-orang yang tarik tarik jauh
dayaku apalah
muakku tak terbalaslah
puncaknya disini,
saat mereka semua mengepungku, kali ini satukan kekuatan untuk membinasakanku
untuk pertama kalinya,
untuk pertama kalinya telinga mereka mendengar suaraku
yang datar lembut mencekamkan
" hai manusia, saat kalian didekatku, aku merasakan bau sampah yang sangat menyengat "
gemeretak terdengar pelan,
lalu ku kepingkan diri ku sendiri
aku melebur, bertumpuk beling-belingku di tanah
walaupun mataku pecah, kulihat semua yang disana melongo tak percaya
juga ntah kenapa, menangis terisak isak meratap.
tentu saja.
deritaku bukanlah saat ditusuk atau dicerca,
tapi saat hidungku mencium bau sampah yang berulat dari tubuh manusia.
aku yang merdeka.
kalian juga kah?
ditulis saat ini juga
mereka menyebutku patung kaca yang berbau bangkai.
memang benar, di rupaku yang begitu indah tercium bau bangkai yang menusuk
tanganku yang terpahat gemulai seperti tak sanggup menarik mereka untuk menikmati parasku
bagi orang orang yang berlalu lalang,
aroma keji ini menggerakkan kepala mereka untuk menggeleng keras,
dan mencaci pedas.
kudengar lamat-lamat,
seorang pemahat berkata "ambil kampakku, ku akan tebas kepalanya dan hilanglah busuk ini!"
maka dilakukannya lah.
aku mengerang sakit--tentu saja mereka tak dengar--walaupun setajam-tajamnya kampak tak kan mampu menghancurkanku.
seorang lainnya berusaha membakarku, menembakku, dan kadang dengan pisau kecil iseng menusuk-nusuk punggungku
ku diam saja. tak bisa senyum tak bisa pilu ku diam saja.
segala upayanya, segala upayaku, tak ada yang mampu.
bersikeras tuk memusnahkan.
bukan maksudku bersikeras pula tetap hidup, tapi memang tiada kuasa yang mampu melumatku hingga merubahku jadi keping
kurasa kuat
orang-orang yang kutuk kutuk tak jelas
orang-orang yang tatap tatap sinis
orang-orang yang tarik tarik jauh
dayaku apalah
muakku tak terbalaslah
puncaknya disini,
saat mereka semua mengepungku, kali ini satukan kekuatan untuk membinasakanku
untuk pertama kalinya,
untuk pertama kalinya telinga mereka mendengar suaraku
yang datar lembut mencekamkan
" hai manusia, saat kalian didekatku, aku merasakan bau sampah yang sangat menyengat "
gemeretak terdengar pelan,
lalu ku kepingkan diri ku sendiri
aku melebur, bertumpuk beling-belingku di tanah
walaupun mataku pecah, kulihat semua yang disana melongo tak percaya
juga ntah kenapa, menangis terisak isak meratap.
tentu saja.
deritaku bukanlah saat ditusuk atau dicerca,
tapi saat hidungku mencium bau sampah yang berulat dari tubuh manusia.
aku yang merdeka.
kalian juga kah?
Langganan:
Postingan (Atom)