30-472
5 Maret 2013
Tatapan yang Tak Berhenti
Nanar, ada percikannya disitu
Jauh menggema ke semesta
Kedip, lupa terjadi disitu
Penting sepersekian jangan terlewat
Sempat kau lupa aku
Mungkin udara tak terhirup lagi
Gulung menggulung badai hampa menghembus
Ku telah mati sebelum yang lain lari pontang panting
Sebab tatapan yang tak berhenti,
dan ronanya yang terus terasa,
dan darahnya yang terus berbuih,
mencubit pelan.
Tak bisa keras.
Makanya, tak sadar-sadar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar