22-151
13 November 2009
Pendar
Di kehidupan yang hilang aku terdiam
Mengertikah aku tentang indahnya hidup
Penuh dengan kegelimpangan serta merta
Aku masih berjiwa
Kini aku kan tumbuh menjadi orang yang entah bagaimana
Kau tumbuh hanya dengan sentuhan air muka
Aku akan terus berjalan, menyusuri malam-malam yang kelam
Ku akhiri, jangan ku sesali
Aku hidup diatas batu yang keras
dan sesekali jatuh mendadak
Aku kini bakal hilang jatuh
Sementara diksiku babak belur
Di pendarnya muka pucat aku bertanya,
meskikah aku mati?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar