Rabu, 04 Februari 2015

Puisi dan Cerita Pendek : Dingin Darahku Melepasmu

Dingin Darahku Melepasmu
25-795
30 Januari 2015

Pulang saja
Tanpa pamit
Ke pelukan yang memang hakmu
Aku bisa apa
Memergoki
Engkau mengelus pigura
Menyimpan tanda tanya
Pura-pura
Tak sengsara

Aku berduri
Pulang saja
Dingin darahku
Melepasmu
Bisaku apa
Rinduku bisa
Tanpamu,
Bisa?

Dingin Darahku Melepasmu
sebuah cerita pendek



    “ Dita? Dit? “

    “ Dita? “

    Aku melambai-lambaikan tanganku ke wajah wanita yang sedang tenggelam di lamunan yang sangat dalam. Ia mengerjap. “hah? Iya? Apa? “

    “ kamu mau mesen apa? “ tanyaku lagi. Aku sebenarnya tidak ingin menginterupsi peperangan yang ada dihatinya, tapi dihadapanku ada kertas berisi daftar menu yang harus diisi. Aku mengetuk-ngetukkan pulpen yang kupegang agar aku terlihat butuh jawaban secepatnya. Dita, wanita yang mengenakan kacamata berbingkai tebal ini pun mulai berpikir. Ia berusaha membaca menu itu seperlunya, padahal ia tak bisa fokus.

    “ banana split aja. “ dia menyerah. Aku yakin dia sebenarnya tidak ingin memakan itu. malah, aku yakin dia tidak ingin makan apa-apa. di cafe yang terletak tak jauh dari kampus kami, aku dan dia duduk berdua, terkungkung dalam diam. Aku lagi-lagi tidak berusaha mengusiknya, berusaha sibuk dengan gadgetku. Padahal dia adalah kekasihku.

    Namun aku tak tahu apa yang ada di otaknya.

    “ Gimana kuliahnya hari ini, Dit? “ aku mencoba mencairkan suasana. Dita menegakkan kepalanya, karena dari tadi pandangan matanya melihat ke sudut kiri meja kami entah apa sebabnya. “ hmm..lancar. kamu gimana? “ tanyanya lagi. Aku juga menjawab sekenanya. “ Lancar juga. Aman terkendali.”

    Kembali diam.

    “ maaf, aku lagi banyak pikiran. “ Dita membuka suara. Aku masih dalam pembawaanku, tenang dan tidak berusaha mempermasalahkannya.

    “ ada apa, Dit? “

    “ dia, masih hidup. “ ujar Dita pelan. Aku tidak menangkap maksudnya, meski aku tahu siapa ‘dia’ yang Dita maksud.

    “ dia udah beristirahat dengan tenang disana, Dita. “

    “ coba kamu lihat ke belakang. “

    Aku menoleh ke belakangku. Aku kaget. Memang benar, sosok yang Dita maksud ada di cafe ini juga. Tepatnya 3 meja dibelakang kami. Sebelum aku degupan jantungku makin keras, Dita menjelaskan “ itu kembarannya. “

    “ oh. “ aku bernapas lega. “ aku baru tahu kalo dia punya kembaran. “

    “ ya, dia punya kembaran. Saputra. “ Dita menyebutkan nama lelaki itu. aku manggut-manggut.

    “ trus apa yang kamu pikirin? “

    “ Saputra harusnya kuliah di Malang. Kenapa dia ada di Jogja? “

    “ Liburan, kalik. “

    “ ini musim UTS, Ji. “

    “ yaudah, panggil aja. kamu kenal? “

    “ aku...lebih dari kenal. “
-----

Di pemakaman lelaki kesayangannya, Dita tak bisa berhenti menangis. Ia menggenggam tanganku erat. Aku hanya bisa mengelus pundaknya, sesekali kepalanya. Rona duka benar-benar terasa kental di pemakaman Satya hari itu. aku sendiri berusaha keras agar tidak meneteskan air mata, karena Satya adalah temanku juga. Hanya saja aku tidak terlalu akrab dengannya. Aku disini adalah untuk menemani Dita. Aku lebih sedih melihat Dita yang kehilangan. Hatiku seperti teriris berkali-kali berada dalam situasi ini.

    Dita dan Satya sudah menjalin hubungan semenjak mereka SMA. Hubungan mereka tetap terjalin dengan baik meskipun mereka melanjutkan ke universitas yang berbeda. Setidaknya mereka masih satu kota. Saat aku mengenal Dita, dia juga masih menyandang status itu. Aku dan Dita satu kampus, meski kerapkali beda kelas dan beda jadwal. Kami sudah sangat-sangat dekat bahkan sejak awal perkuliahan, entah darimana datangnya. Semua terjadi begitu saja. Berawal dari dia terlambat datang kuliah dan akhirnya mengambil tempat duduk disebelahku yang memang sering mengambil kursi di belakang. Dari awal kedatangannya, aku sudah bisa membaca dia adalah orang yang seperti apa. panikan, tidak teratur. Butuh pertolongan. Aku tetap diam, sementara dia terengah-engah, menenggak minum seenaknya, kemudian mengajakku berbicara.

    “ pak dosennya telat nggak? “ kalimat pertama Dita kepadaku. Butuh waktu bagiku untuk sadar kalau dia berbicara padaku.

    “ enggak kok. “

    “ ah, sial. Kirain telat. Aku Dita. “ ia mengulurkan tangannya. Aku menyambut. “ Aji. “ jawabku masih singkat.

    “ tau nggak sih, aku tuh tadi kelamaan nyuci. Bodoh banget kan. “ dengan setengah berbisik dia tiba-tiba bercerita tentang apa yang barusan dia alami.

    “ oh ya? “ responku lumayan singkat, tetapi masih diserbunya dengan cerita yang bertubi-tubi. “ iya. Parah. Aku tuh ngga liat jam. Aku mulai nyuci dari pagi, jadi aku nyantai aja kan. Santai-santai aja, bahkan mainan aer. Ternyata...udah mau masuk. Parah. Besok aku harus pasang jam di kamar mandi. “

    Aku tidak terganggu. Aku menikmatinya.

    Aku rasa itu yang menjadi sebuah awal. Setelahnya? Aku kurang tahu. Secara berkelanjutan kami menjadi sangat dekat. Aku menemaninya kemana saja, mengantarnya kemana-mana, dan mendengar ceritanya kapan saja. Dari dia lah aku mengenal Satya. Satya sendiri merasa tidak masalah dengan keberadaanku. Aku rasa Satya sadar Dita adalah seorang wanita yang butuh orang yang ada disampingnya, sesuatu yang tak selalu bisa Satya lakukan karena kesibukannya sebagai mahasiswa kedokteran. Tanpa berusaha mengambil posisi Satya, tanpa menaruh hati, semua aku lakukan. Seketika Dita menjadi penting bagiku. Entah sebagai apa. orang-orang berkata kalau aku hanya dimanfaatkan, namun aku menikmati peran ini. Lagi-lagi, entah kenapa.

    Kali ini Dita mencapai puncak tersedihnya. Lelaki yang ia sudah sayangi 4  tahun itu dipanggil oleh sang Maha Kuasa. Aku mendampinginya. Takkan ku biarkan dia terpuruk sendirian. aku akan bersamanya. Sekarang dan seterusnya.

    Tujuh bulan setelah pemakaman Satya, akhirnya aku dan Dita menjalin hubungan yang sebenarnya. tak bisa aku pungkiri ternyata aku sudah menyayanginya dengan amat sangat. Dita sendiri menyetujuinya. Kami seperti meresmikan sesuatu yang sudah ada dari dulu. Tidak ada yang berubah dari sikap kami masing-masing. Sama saja. Aku sendiri juga tidak bermaksud memanfaatkan situasi kematian Satya. Semua terjadi begitu saja.

    Namun hal ini baru. Aku baru tahu kalau Satya ternyata memiliki saudara kembar bernama Saputra. Aku juga tidak melihat orang yang mirip seperti Satya di pemakamannya. Mungkin aku kurang beruntung tidak sempat melihat keberadaan Saputra saat itu, karena kenyataannya, Saputra sangat sangat mirip dengan Satya. Wajah, postur tubuh, bahkan gaya rambut dan gaya berpakaian tidak jauh berbeda. Wajar aku kaget luar biasa saat pertama melihatnya.

    “ lebih dari kenal? Kalian dulu satu sekolah juga berarti? “

    “ iya, dia dulu teman sekelasku. “

    “ wah bagus dong. Panggil gih. Suruh gabung sini. “ aku kembali menoleh ke belakang, memastikan kalau memang Saputra sedang duduk sendirian.

    “ duh..gimana ya..duh..” Dita terlihat makin gelisah.

    “ apa perlu aku yang panggilin? “

    “ ngg...ga us—“

    “ Saputra! Saputra! “ aku memotong kalimat Dita dan memanggil kecil lelaki itu. ia mendengar, menegakkan kepala mencari siapa yang memanggilnya. Dita menutup mukanya. Aku jadi bingung, apa aku salah berbuat. Aku meminggirkan sedikit badanku agar Saputra melihat ada seseorang yang semestinya ia kenal dihadapanku. Ternyata memang benar, Saputra tertegun melihat Dita yang sedang berusaha menyembunyikan wajahnya. Saputra berdiri, beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke meja kami. Kulihat Dita semakin kelabakan.

    “ Dita? “ ujar Saputra yang sudah berdiri disamping meja kami. Dita mengangkat kepalanya. Dia sudah dikenali, tidak bisa bersembunyi lagi.

    “ hai...Putra. “ Dita menjawab pelan. Aku tidak mengerti dengan situasi ini, tapi tetap berusaha untuk tidak ambil pusing.

    “ kenalin, aku Aji. Sendirian aja, Put? Bareng sini, kamu temen sekolahnya Dita kan? “ sebelum situasi mereka menjadi tambah aneh, aku menengahi. Mereka sendiri masih terperangah satu sama lain. Butuh beberapa detik sampai akhirnya Saputra benar-benar menggubrisku. “ oh, iya. Aku ambil kopiku dulu. “

    Di satu meja ini, dua orang yang bersamaku ini makan dalam diam. Entah karena sedang terlalu menikmati santapan masing-masing atau sedang memikirkan sesuatu.  Aku cenderung memihak ke kemungkinan kedua. Sempat beberapa kali aku mengajak Saputra berbicara, sekedar berbasa-basi mengenai bagaimana kuliahnya sebagai mahasiswa akuntansi, juga mencoba membahas sedikit-sedikit mengenai bagaimana masa SMA dia dan Dita dulu agar Dita juga bisa ikut bicara. Tetapi tidak, kekasihku itu seperti sedang kerasukan hari ini. Ia yang selalu punya bahan cerita itu tiba-tiba bungkam. Lagi-lagi aku tak mau ambil pusing. Aku hanya berniat untuk bertanya tentang apa yang berkecamuk dalam otaknya nanti setelah kami keluar dari cafe ini. Sementara Saputra? Beberapa menit kemudian ia meminta pamit lebih awal, katanya ada janji. Aku mengiyakan, Dita masih diam. Aku masih tidak curiga apa-apa. semoga saja Dita baik-baik saja.

    “ kamu kenapa dari tadi diem terus? “ didalam mobilku sembari perjalanan mengantarkan Dita ke kost nya, aku mencoba bertanya tentang keanehannya tadi sore.

    “ engga kok, nggak apa. “

    “ aku nggak kenal kamu sehari dua hari, Anindita. “

    “ Ji... “

    “ Apa? “

    “ boleh nggak, untuk pertama kalinya. Aku nggak menceritakan sesuatu ke kamu? “

    Aku terdiam. Lumayan lama. Jantungku berdegup, namun aku masih bisa menormalkannya dalam sesaat.

    “ iya, nggak apa. “

    Aku menoleh ke wanita yang duduk di sampingku. Lagi-lagi ku tangkap ia sedang melamun. Aku bukanlah orang yang bisa berprasangka buruk, namun kali ini perasaanku tak enak. Aku hanya bisa melemparkan pandangan ke langit sambil menyetir, berusaha tidak memikirkannya. Bulan malam ini penuh sekali.
-----

    Sudah hampir seminggu aku tidak menghabiskan waktu bersama Dita. Wajar saja karena kami harus fokus dengan UTS kami masing-masing. Ia sendiri tidak suka belajar bersamaku, ia lebih senang belajar bersama teman-teman wanitanya dan aku juga lebih sering tidur di kost temanku untuk sekedar belajar sambil bersantai bersama. Aku hanya bertemu dengannya sekali-sekali, saat kami berada di ruang ujian yang sama. aku juga menghubunginya sekali-sekali, hanya memastikan apa dia sudah makan atau belajar.

    Hari itu, aku baru saja pulang dari kampus setelah aku dan teman-temanku makan bersama di kantin jurusan. Sebelum kembali ke kost temanku untuk lanjut belajar bersama, aku perlu mampir sebentar ke fotokopian untuk fotokopi bahan ujianku besok. Aku berpikir mungkin aku bisa sekalian melewati kost Dita dan mengecek keadaan Dita sebentar karena di seberang kost nya ada tempat fotokopi.

    Sesampainya disana, kost Dita tampak kosong. Aku rasa Dita tidak sedang di kostnya. Aku kembali ke niatku yang sebenarnya, fotokopi bahan ujian. Sambil menunggu fotokopianku selesai, pandanganku tak lepas dari kost Dita dan pikiranku melayang-layang dimanakah gadis yang harusnya sudah selesai ujian daritadi itu. lamunanku terhenti saat melihat sebuah motor terhenti di depan kost Dita. motor itu dikendarai oleh seorang lelaki dan ada seorang wanita yang dibonceng dibelakangnya. Pandanganku semakin lekat pada dua orang ini. Aku mengenal siapa mereka.

    “ Dita! “ panggilku dari tempat fotokopian. Wanita itu menoleh. Wajahnya seketika memucat. Aku melangkahkan kaki ke tempat mereka.

    “ Saputra? Hai. Kalian dari mana? “ lelaki yang membonceng kekasihku ini tak lain dan tidak bukan adalah Saputra. Kagetku berlipat ganda. Saputra sendiri juga terlihat kaget. Reaksi mereka berdua membuatku bingung, seperti sedang dipergoki melakukan kesalahan. Padahal aku masih dengan pembawaanku, tenang dan malas berpikir terlalu jauh.

    “ ngg..kami dari..makan di.. “ jawab Dita terputus-putus. Dahiku mengernyit. “ eh, santai aja. kenapa sih? Jangan grogi gitu lah. Hahaha. “ responku ringan. Air muka mereka pun ikut tenang.

    “ kami abis dari Calzone. Ga ada, minum doang. “ jawab Saputra santai sambil menyebut cafe yang terletak tak jauh dari sini. Aku manggut-manggut. Aku juga tak tahu mau berkata apa.

    “ oh, iya. Makasih ya udah nganterin Dita pulang. “ hanya itu kalimat yang bisa aku lontarkan. Aku kira Saputra akan segera pergi. Tetapi tidak. ia malah tidak menggubris kata-kataku dan melemparkan tatapan penuh arti kepada Dita. mereka seperti memberi kode satu sama lain. Sungguh keherananku sudah melewati batas. Nada bicara ku meninggi, “ ini sebenernya ada apa s—“

    “ aku mau kita putus. “ ucap Dita memotong kalimatku. Aku mengerjap berkali-kali mendengar kata-kata itu. tunggu. Apa ini. Apa yang terjadi. Aku ling-lung beberapa saat, berusaha mencerna kata demi kata dari orang yang sangat kusayangi ini. Kali ini aku beku. Lidahku kelu, bahkan untuk menanyakan alasan pun aku tak mampu.

    “ aku mau kita putus. “ Dita mengulangi kata-katanya lagi, karena melihatku yang tidak bereaksi apa-apa. tidakkah dia tahu bahwa mengulangi kalimat itu sama sekali tidak membantuku untuk mengerti situasi ini. Aku berusaha bertanya setidaknya satu pertanyaan ini, “kenapa..? “

    “ Ji, maafin aku. Aku nggak bisa jelasin, Ji. Maafin aku. Ji..maafin aku. “ air mata Dita menetes. Tatapanku semakin nanar. Kepalaku pusing, rasanya seperti darahku berhenti dan tidak mengalir dengan semestinya di tubuhku. Aku benar-benar terpaku. Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Selama ini aku selalu menang melawan kepanikan dan emosi. Aku adalah orang yang paling tenang sedunia. Aku tidak pernah mengambil pusing akan sesuatu. Aku tidak pernah curiga. Emosiku selalu stabil. Aku...aku tidak pernah merasakan hal yang aku rasakan sekarang.

    “ ji, maafin aku, Ji..maafin aku..maafin aku, Ji.. “ Dita mengulangi kata-kata itu, aku mendengarnya tetapi di sisi lain aku seperti tidak mendengar suara apa-apa. Dita mencoba menggenggam tanganku. Aku menepisnya. Reaksiku membuatnya menangis lebih deras lagi. Kali ini jantungku berdegup sangat kencang. Disepanjang hubungan kami, dari dulu bahkan dari pertama aku mengenalnya, aku tidak pernah marah pada Dita. semua yang kurasakan kali ini, terasa asing bagiku.

    “ kenapa? “ suaraku dingin. Dita masih terkungkung dalam tangisnya. Darahku mendidih.

    “ kenapa?! “

   “ karena Satya masih hidup!! “ suara Dita meninggi akibat suaraku yang meninggi juga. Jawabannya membuatku semakin sakit hati.

    “ aku ada di pemakaman Satya. Aku ada di rumah sakit saat Satya dinyatakan udah berhenti bernapas. Aku ada disana, Dita. Aku ada disamping kamu!...
    ...orang ini? Apa orang ini yang kamu bilang Satya? Dia-saudara-kembarnya! Dia Saputra! Mereka orang yang berbeda, Dita. mereka mirip. Ini bukan Satya! Satya udah mati!! “

    Ini adalah kali pertama aku membentak Dita. emosiku sudah tak terkontrol. Beberapa kali aku menunjuk-nunjuk Saputra yang masih ada diatas motornya. Saputra hanya bisa tertunduk. Ia bahkan tak berani melihatku. Ia tidak ikut campur dengan perdebatan kami, tapi keberadaannya disini membuat amarahku semakin berkecamuk. Dita masih sesenggukan dalam tangisnya. Aku tidak percaya wanita yang menangis di depanku ini adalah seorang Dita. Seorang Dita yang aku sudah melakukan segala hal untuknya. Seorang Dita yang biasanya bergelayut manja dilenganku dan berandai-andai untuk mengajakku berkeliling dunia. Siapa wanita ini? Aku tidak mengenalnya. Hatiku nyeri.

    “ ...Satya masih hidup, Ji..Satya masih hidup... “ didalam tangisnya, Dita masih mengucapkan kata-kata itu. aku harus kembali ke diriku. Cukup. Aku tidak butuh untuk mengerti lebih lanjut. aku akan menyelesaikan ini dengan caraku, tak mau mengambil pusing.

    “ kamu freak, Dit. “ ujarku pelan. Aku membelakanginya. Aku tidak akan menoleh ke belakang lagi. Ku dengar Dita memanggil namaku beberapa kali dengan suara dan air matanya. Aku tak peduli. Ku ambil fotokopianku dan langsung tancap gas dari situ. Aku benar-benar tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Amarahku ingin meledak, namun dinding dan sikap dinginku membantuku. Seketika temperamenku menurun. Aku seperti disetel ulang. Aku seperti menghapus segala memori tentang Dita. aku seperti kembali ke aku yang dulu. Aku yang tidak mengenal cinta.

    Aku yang tidak mengenal Dita.

    Dingin darahku melepasmu, Dita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar